latihan Kerjasama

Latihan kerjasama dimulai dari sejak sekarang agar terbiasa pada saat anda memiliki perusahaan/ bekerja di perusahaan orang anda tidak kagok untuk bekerja sama dengan teman atau rekan bisnis anda. Kita bisa mulai dan bisa mempraktikkan dari yg kecil saja

  1. Kerja kelompok Gambar

Pada saat anda dan teman anda bekerja kelompok anda bisa saling bertukar pikiran/ide dan bisa lebih mudah menyelesaikan suatu masalah yg anda anggap sulit untuk menyelesaikan sendiri

  1. Latihan drama Gambar

Anda bisa menjadi lebih kompak karna di dalam drama sangat sekali dibutuhkan kekompakkan dan kekompakkan itu bisa anda bicarakan dengan teman anda, apabila ada yg tidak kompak maka drama itu tidak akan bisa ditampilkan dengan lancar dan bagus

  1. Bermai sepak bola Gambar

Didalam permainan sepak bola perlu ada teknik dan yg cermat dan suatu kekompakkan yg harus dikeluarkan agar pada pertandingan itu anda bisa memenangkannya. Untuk mendapatkan teknik yg bagus dan kekompakkan anda bisa kompromikan dengan teman-teman satu tim anda

Pentingnya kerjasama

Gambar

Gue mau sedikit sharing di sini tentang…kerjasama. Dulu di sekolah kalau lagi kerjain tugas atau ulangan pasti kita sering banget ‘KS’ bahasa gaul kelas gue saat itu, “Eh ntar pas ulangan kita KS yuk.” KS di sini maksudnya adalah KerjaSama, kerjasama. Barengan gitu dong jawabannya? huehehehe…
Sebenernya gak barengan sih jawabannya, cuma kalo jawaban gue begini, jawaban dia begitu, liat bedanya dimana. Kalau ternyata salah satu dari kita yang ‘benar’, ya kita ikutin aja jawabannya, tapi kalo kita tetep keukeuh jawaban kita udah bener ya uda tetep pada jalannya masing-masing. Cuma ya secara-diam-diam-supaya-guru-gak-tahu. Haha…

Dan ternyata kerjasama itu berbeda loh dengan mencontek. Kalau mencontek, kita melihat dan menyalin jawaban teman tanpa persetujuannya, atau langsung nyontek dari buku. Hihihi ini mah pembelaan diri ya namanya, yg namanya ulangan mana boleh sih kerjasama :p

Tapi yang sekarang gue mau bahas adalah kerjasama dalam lingkungan kerja. Kerja+Sama = Kerja bersama-sama, bentuknya jamak, artinya lebih dari 1 orang yang bekerja (dalam suatu proyek). Akhir-akhir ini gue sedang agak prihatin (cie bahasanya udah kayak babeh :)) dengan seorang designer
yang berasal dari negara tetangga kita. Gue ga tau jelas bagaimana sistem bekerja mereka di sana, jadi mungkin beberapa hal yang dia anggap ‘wajar’, menurut gue menjadi tidak wajar dan malah terkesan menyebalkan.

Oh ya, tentu saja perlu diingat bahwa dalam bekerjasama, sifat masing-masing pribadi itu sangat berpengaruh dalam kelancaran proses suatu pekerjaan. Dan tentu saja, sifat yang positif akan membawa situasi kerja menjadi menyenangkan, dan sebaliknya.

Sayangnya, yang team kami hadapi saat ini adalah seseorang yang memiliki sifat kurang positif alias kurang mau bekerjasama. Gue tau dia pintar dan berbakat karena design yang dia bikin menurut gue cukup bagus, namun apakah pintar dan berbakat itu menjadi penting ketika dalam prakteknya dia tidak mau membagi ilmunya kepada orang lain, apalagi orang lain ini adalah mereka-mereka yang akan mewujudkan design yang dia bikin menjadi sebuah bentuk nyata yang bisa disentuh?

Ya memang, dalam proyek ini ada 2 team yang bekerja, team pertama adalah team si designer dan beberapa orang tukangnya, dan team kedua adalah team gue dengan beberapa tukang juga. Sudah dibagi sejak awal pekerjaan masing-masing team, dan kami mulai bekerja. Pada saat pekerjaan akan dimulai, team gue memiliki pertanyan perihal layout dan design dari si designer nya, yang mana pada saat itu gue tidak ada di lokasi, dan kebetulan yang ada di lokasi adalah si designer ini. Jadi agar tidak terjadi kesalahan setelah dikerjakan, maka pekerja gue bertanya langsung ke designernya karena pikirannya saat itu ‘ini kan layout dan gambar dia yang bikin, jadi mumpung ada orangnya di sini langsung ditanyain aja biar jelas.’ Dan ternyata apa jawaban yang pekerja gue dapat saudara-saudara? “Tanya saja sama bos kamu, kita kerja saja masing-masing.”

Grrrrr mau emosi gak sih ditanya baik-baik malah dijawab begitu? Dan dibalas sama pekerja gue “Kan bapak yang bikin gambarnya, ini ukuran pintunya ada yang belum dicantumin, mau ukuran berapa pak?”, dibalas oleh si designer “Ya pakai ukuran standard aja, kamu bisalah kira-kira sendiri.” GILA!! Mungkin dia pintar, tapi dia tidak cukup pintar dalam urusan sosial dan bukan tipe orang yang mampu bekerjasama dengan pihak lain.

Dan yang bikin gue tambah kesal, ketika barang sudah setengah jadi dan dia lihat hasilnya, dia protes. Dia bilang tidak sesuai dengan yang ada di gambar. Padahal tukang gue udah tanya sama dia sejak awal mereka mau turun kerja loh, dan yang dijawab ‘kerja masing-masing’ itu sama dia. Akhirnya team gue mesti ubah beberapa hal.

Gue bilang sama team gue, pokoknya kerjakan sesuai porsi kita dan karena dia bilang ‘masing-masing’, ya udah gak usah tanya apa-apa lagi sama designernya, langsung tanya ke saya atau pemiliknya aja maunya seperti apa. Kita ingin proyek ini cepat selesai, tapi kalau hal-hal kecil seperti itu jadi mengganggu kan jadi mundur-mundur terus.

Dan lainnya dan sebagainya hal-hal kurang menyenangkan akibat dari kurang bisanya orang pintar untuk berbagi dengan yang lainnya. Tulisan ini bukan untuk berkeluh kesah atau menjelekkan pihak lain, namun hanya sebagai pengingat bahwa Kepintaran itu seperti lilin, jika berbagi ke lilin lainnya tidak akan mengurangi kualitas lilin yang utama, malah cahayanya akan semakin terang karena banyak lilin yang menyala.

Dan juga sebagai pengingat bahwa dalam bekerja kita tidak mungkin kerja sendirian, itulah mengapa dalam setiap membuat surat lamaran pekerjaan jika menulis “Senang bekerja dalam team dan memiliki kemampuan kerjasama yang baik” akan lebih dilirik oleh perusahaan.

Membina kerjasama secara konsisten

Dalam hubungan yang efektif, pihak-pihak saling memahami posisi dan perasaan masing-masing. Cara paling mudah untuk memahami orang lain adalah mengerti apa hal-hal yang penting bagi orang lain itu. Untuk mengerti apa yang penting bagi mereka adalah bertanya. Setelah bertanya, Anda harus mampu ’mendengar’. Coba refleksikan pada diri Anda sendiri. Ketika orang lain tertarik kepada kita, kita mengerti atau merasakannya khan? Bila Anda benar-benar memunculkan rasa tertarik pada orang lain, ia juga akan mengerti dan merasakan hal yang sama.

           Jika orang sedang penuh memberikan perhatian, jangan menyela, jangan canda dan sebaiknya tidak bicara tentang ‘pribadi’ orang itu. Orang akan merasa diterima daripada dinilai. ’Mendengarkan menciptakan pemahaman’. Jika  Anda memahami orang lain sepenuhnya, Anda kemudian tahu apa yang bisa dilakukan untuk menjadi lebih dekat untuk bisa bekerja sama.

          Dalam hubungan-hubungan yang efektif, masing-masing pihak mengungkapkan secara terbuka posisi dan perasaan mereka. Kadangkala terjadi, kita berharap orang lain yang lebih dahulu memahami kita. Ini jelas harapan yang sangat tidak realistis.

          Demi membuat hubungan efektif, kita harus memperlakukan diri kita dan orang lain dengan penuh respek. Ingat, bahwa respek adalah inti penting dari apapun orang lain dan memahami cara mereka melihat sesuatu. Menilai orang lain secara prematur adalah sebuah tindakan yang bertolak belakang dari respek. Anda bisa respek orang lain meskipun perilaku mereka tidak bisa dimengerti. Bagaimana caranya? Hargai orang lain, mulai dari, misalnya asal mereka, prestasi mereka, atau pandangan dan sikap mereka terhadap sesuatu.

         Respek adalah dasar dari hubungan yang kuat, ini berarti menghargai diri Anda sendiri sebagaimana menghargai orang lain. Artinya, jika Anda menghargai diri Anda bagus, jauh lebih mudah untuk menghargai dan memperlakukan orang lain dengan bagus juga.

          Kunci lain untuk membentuk hubungan efektif adalah berbesar hati menghadapi berbagai macam perbedaan. Letakkan pemahaman bahwa perbedaan antara manusia-manusia adalah sesuatu yang menarik dan alami. Mereka diciptakan berbeda-beda. Mereka dibesarkan di lingkungan yang berbeda-beda. Tidak ada dua manusia yang sama identik. Artinya, perbedaan musti disikapi secara positif.

         Dengan ‘mendengarkan’ Anda bisa menemukan ‘kebenaran’ baru yang terintegrasi diantara dua perspektif yang berbeda. Bukankah, mustinya lebih menyenangkan daripada misalnya, menyingkirkan, beradu pendapat, mengeluh, atau memusuhi. Belajar menghadapi perbedaan membutuhkan waktu  dan kadangkala membuat situasi batin Anda tidak nyaman, tetapi hanya itu satu-satunya jalan untuk memahami orang lain

Gambar

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Gambar

Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak mungkin bisa memisahkan hidupnya dengan manusia lain. Sudah bukan rahasia lagi bahwa segala bentuk kebudayaan, tatanan hidup, dan sistem kemasyarakatan terbentuk karena interaksi dan benturan kepentingan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Sejak zaman prasejarah hingga sejarah, manusia telah disibukkan dengan keterciptaan berbagai aturan dan norma dalam kehidupan berkelompok mereka. Dalam kelindan berbagai keterciptaan itulah ilmu pengetahuan terbukti memainkan peranan signifikan.
Ilmu pengetahuan tidak hanya dapat dipahami dalam arti sebuah hukum atau teori ilmiah sebagai hasil statis kegiatan utamanya. Ilmu pengetahuan harus dipandang juga sebagai sebuah proses, sebuah kegiatan, dan tentu saja sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh para ilmuwan. Mahasiswa yang akan diorientasikan  untuk menjadi sosok ilmuwan yang peka atas permasalahan sosial kemasyarakatan diharapkan mampu larut dalam proses keterciptaan ilmu pengetahuan tersebut.
Kemampuan untuk larut tersebut harus dimulai dengan mengetahui dan memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan melalui kemampuan “membaca” berbagai hasil teori dan kajian ilmu sosial, untuk kemudian mampu melihat relevansi dan aplikasinya dengan fenomena dan problema sosial kontemporer. Pada tataran selanjutnya pemahaman itu akan menggerakkan kemampuan untuk berproses dalam keterciptaan ilmu pengetahuan. Artinya pada simpul akhir mahasiswa tidak menerima begitu saja teori dan hukum ilmiah yang telah ada, melainkan mampu melahirkan teori dan kajian-kajian atas fenomena sosial sebagai karya personal mereka. Mata kuliah ISD menjadi mata kuliah pengantar demi tujuan tersebut.

I.MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

Manusia adalah makhluk social yang hidup bermasyarakat (zoon politicon). Keutuhan manusia akan tercapai apabila manusia sanggup menyelaraskan perannya sebagai makhluk ekonomi dan social. Sebagai makhluk sisoal (homo socialis), manusia tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi membutuhkan manusia lain dalam beberapa hal tertentu. Misalnya, dalam lingkungan manusia terkecil yaitu keluarga. Dalam keluarga, seorang bayi membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya agae dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan sehat.

Manusia sebagai Makhul Individual

Memahami Manusia Sebagai Makhluk Individul manusia sebagai mahluk individu sebaiknya perlu dipahami arti kata individu itu sendiri. Kata “Individu” berasal dari kata latin, “individuum” artinya “yang tidak terbagi”. Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat. Dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu.
Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana seorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.

Karakteristik yang khas dari seseorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan (genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.

Pengertian kerjasama

Pengertian kerja sama adalah sebuah sistem pekerjaan yang kerjakan oleh dua orang atau lebih untuk mendapatkan tujuan yang direncanakan bersama. Kerja sama dalam tim kerja menjadi sebuah kebutuhan dalam mewujudkan keberhasilan kinerja dan prestasi kerja. Kerja sama dalam tim kerja akan menjadi suatu daya dorong yang memiliki energi dan sinergisitas bagi individu-individu yang tergabung dalam kerja tim. Komunikasi akan berjalan baik dengan dilandasi kesadaran tanggung jawab tiap anggota. Gambar

Remaja anti korupsi

Gambar

1. Penanaman kejujuran sejak dini

Kejujuran adalah suatu hal yang sangat penting dari pembentukan karakter seseorang, bila kejujuran ditanamkan secara dini, bukan tidak mungkin kita akan mendapatkan pejabat-pejabat pemerintahan yang jujur.

2. Kedisiplinan dan taat pada hukum yang berlaku

Tidak dimungkiri, kedisiplinan merupakan suatu karakter dari seseorang yang sangat diperlukan dalam hidupnya. Bila seseorang disiplin dan taat pada hukum yang berlaku, maka perilaku korupsi bisa musnah dengan sendirinya.

3. Kesadaran mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi

Bila seseorang lebih mementingkan kepentingan umum, maka dia tidak akan egois tentang kepentingan pribadinya. Jika perilaku korupsi bisa terpinggirkan, maka bukan tidak mungkin kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat pun terjamin.

4. Penerapan Pajak kekayaan yang tinggi

Perilaku korupsi bisa disebabkan oleh keegoisan seseorang dalam meraih kekayaan. Guna mencegah kekayaan yang berlimpah, maka pajak kekayaan yang tinggi akan menjadi solusi yang baik. Dengan begtiu. seseorang enggan untuk menambah kekayaannya. Langkah ini bisa juga dimaksudkan untuk penurunan tingkat korupsi berdasarkan keinginan untuk kaya. 

5. Hidup sederhana, dan bersyukur

Tekanan ekonomi yang tinggi bisa memunculkan suatu ide dan gagasan seseorang mencari jalan pintas guna meraih kekayaan.  Untuk mencegah hal tersebut, perlu ditananmkan kesederhanaan kepada seseorang sejak dini dan tak lupa rasa syukur kepada illahi atas apa yang kita miliki.